Belajar Dari Nenek

Dari kecil gue termasuk cucu yang paling dekat dengan Popo (panggilan untuk nenek gue, ibu dari bapak gue) karena ketika liburan sekolah di masa kecil, ketika anak-anak lain berlibur bersama keluarganya ke luar kota, pasti gue menginap di rumah Popo.

Ada masa di mana gue sama sekali nggak sempat main lagi ke rumah Popo karena kesibukan sehingga begitu gue sempat, gue akan mencuri waktu melipir untuk menemui Popo. Walau cuma diem di rumahnya, at least dia tau ada gue disana.

Suatu malam gue mendengar kabar ketika berada di kantor lama gue, bahwa Popo gue jatuh dan mengalami patah tulang. Saat itu hati gue sangat hancur dan langsung gue samperin ke kediaman beliau.

Waktu berlalu dan singkat kata saat ini sudah melewati beberapa bulan sejak kejadian itu. Berbagai pengobatan sudah dilakukan di dalam dan luar kota namun beliau tetap tidak bisa berjalan. Namun sudah ada kemajuan, yang tadinya Popo gue cuma bisa tiduran di ranjang, sekarang dengan alat bantu, beliau bisa berjalan pelan-pelan.

Dengan kesibukan yang berkurang akibat gue memutuskan untuk resign dari perusahaan lama gue, gue berkomitmen untuk dapat mengunjungi Popo gue lebih sering lagi. Akhirnya hari itu, gue datang ke kediaman Popo. Tanpa membawa laptop (yang akan mengingatkan gue untuk mengerjakan beberapa task pribadi gue), hanya membawa beberapa helai pakaian dan buku Totto-chan (buku ini merupakan hadiah farewell dari Dadang, salah seorang team gue dulu).

Lalu gue bangun cukup pagi untuk membaca Totto-chan. Namun gue menemukan pemandangan yang janggal. gue melihat Popo berjalan ke depan pintu rumah dan mencoba untuk berjalan.

a.jpg

 

Lalu gue segera membawa Totto-chan keluar pintu bersama gue, berpikir bahwa mau memindahkan lokasi membaca. Sambil gue mengamati Popo. Lalu gue menemukan selembar kertas yang aneh.

 

a.jpg

 

Ternyata setiap pagi, Popo akan belajar untuk berjalan dengan naik turun tangga di depan rumahnya. Beliau mengumpulkan segenap kekuatannya untuk memijakan kaki kecilnya dilangkah selanjutnya. Lalu setelah itu dia akan mencatat berapa banyak langkah di kertas tersebut. Target dari kegiatan ini, minimal 20 langkah sehari.

aa.jpg

 

“Apo kuat juga, ya!”

“Kuat nggak kuat ya harus kuat.”

“Apo mau gue bawain buku yang bagus nggak buat nyatet itu?”

“Nggak usah.”

 

Badassss! Tahun ini Popo gue berumur 89 tahun dan gue bangga sekali bisa punya Popo seperti beliau. Meanwhile gue mau olahraga aja lebih susah daripada ngadepin client (iyalah, clientnya gemes-gemes kok). Bahkan gue selalu bisa belajar hal baru dari beliau.

Again, gue bangga sekali dengan beliau dan gue merasa semangat gue nggak boleh kalah dengan wanita berumur 89 tahun ini!

Belajar Dari Nenek

7 pemikiran pada “Belajar Dari Nenek

  1. Keren! Semangatnya patut ditiru :D. Anw, Nenek gw lebih tua lagi Jo. Lahir tahun 1923 dan sekarang kondisi untuk diajak komunikasi masih charming banget, walaupun udah udzur gegara patah tulang di pangkal paha-nya sih (lebih ke geser tulangnya gegara pengapuran). Some how kalau beliau cerita ttg pengelamannya, menarik banget dan bisa diambil hikmahnya (pokoknya dalem banget lah) :)))

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s