Mahalnya Lingkungan dan Network

Ketika mendalami 1 bidang ilmu, source bisa kita dapat dari mana saja. Apalagi mengingat ini zaman internet di mana ada agama baru yang namanya Google. Ketika apa yang kita cari tidak dapat kita temukan di sekeliling kita, itu adalah hambatan. Hambatan yang bisa kita cari jalan keluarnya. Contoh kecilnya adalah, ketika kita tidak bisa mendapatkan buku yang bagus dalam satu bidang ilmu yang kita mau gunakan untuk belajar dari satu toko, ya cari dong di toko lain, atau search source lain di internet yang menyediakan buku itu. Mentor berperan sangat penting, mereka bisa memberikan arahan maupun feedback yang harganya mahal. Lo mau punya mentor yang bagus tapi di sekitar lo nggak ada mentor yang memenuhi standart itu? Ya bisa dimulai dengan connect/follow mentor keren di social media mereka. CARI!

Kalau lo merasa nggak mendapatkan opportunity, bikin sendiri opportunitynya!

Untuk dapat berkembang, kita butuh bermacam-macam faktor. Salah satu yang gue anggap penting adalah bagaimana kita menempatkan diri dalam lingkungan yang mendukung kita semakin berkembang. Menurut gue lingkungan maupun akses yang tepat itu harganya mahal.

Contohnya adalah, orang mau bayar mahal untuk menyekolahkan anaknya di sekolah international. Kenapa? Pertama, mereka membayar untuk materi/kurikulum yang dinilai lebih baik dibandingkan dengan sekolah lainnya. Lalu umumnya mereka ingin anak mereka mendapatkan lingkungan yang diisi oleh sesama anak-anak dengan level edukasi yang sama, maupun background sosial yang sama.

Seperti Brat Pitt dan Angelina Jolie yang dipertemukan lewat proses pembuatan film Mr & Mrs. Smith. Mereka mengalami cinta lokasi, menikah dan memiliki keluarga yang bahagia kala itu, walau saat ini mereka sudah bercerai. Namun mereka mendapatkan beberapa tahun kebersamaan yang indah sebagai sepasang kekasih.

Pernah menikmati sate enak dari Tesate maupun Sate Khas Senayan? Keduanya berasal dari Sarirasa Group. Dari segi rasa mungkin kurang lebih mirip, namun apa yang membuat orang membayar lebih untuk menikmati menu dari Tesate? Di sana kita mendapatkan pelayanan lebih baik, juga gengsi yang lebih tinggi secara image. Luksuri deh.

Untuk segi mencari ilmu, kita bisa mendapatkan tutorial gratis di internet. Tapi kenapa lo mau bayar mahal untuk mengikuti masterclass/workshop? Lo bisa mendapatkan materi langsung dengan lebih mendalam. Bisa tanya langsung dan mendapatkan feedback berdasarkan kapasitas si pembicara. Lebih dari itu lo bisa dapat akses langsung kepada si pembicara yang nggak semua orang bisa dapat dengan lebih mudah. Berikutnya lo berkesempatan untuk membangun hubungan lebih yang bisa mendatangkan banyak potensi baik di hari depan.

Jadi ingat, ketika beberapa tahun yang lalu ketika gue sangat ingin menjadi ilustrator. Tahun 2009 kegiatan gue sehari-hari adalah menggambar manual portrait dengan pensil. Gue belum berkuliah waktu itu.  Juli 2011 teman baik yang saat itu berkuliah jurusan DKV di Bina Nusantara mengajak gue untuk datang ke acara kampusnya, Plaza Design yang menyediakan serangkaian seminar dan workshop berbayar dengan berbagai tema pembahasan. Gue kaget. Gue baru tau saat itu bahwa ada loh kegiatan yang namanya seminar, orang membayar dan belajar bersama mendengarkan narasumber di suatu tempat (kebayang kan betapa kupernya gue?). Saat itu gue sangat haus ilmu dan langsung membeli tiket untuk 7 kelas.

Salah satu dari kelas itu adalah workshop dari Caravan Studio kalau tidak salah mengenai pembuatan concept art dari film. Hari itu gue baru tau, pembuatan film melalui pembuatan concept art terlebih dahulu. Dan ada perusahaan di dalam negeri yang menghandle kerjaan komik, ilustrasi maupun concept art untuk project dalam dan luar negeri. Gue duduk paling depan (napsu bener). Gue pengen ngerti lebih jauh. Gue pengen kenal sama para pemateri, dan gue ngeliat Caravan Studio shining banget sumpah. Gue ga kenal mereka. Tapi gue mau kenal mereka. Tapi gue gak tau caranya. Kelar acara gue ajakin semua pemateri dari Caravan untuk foto bareng.

23 Juli 2011 di workshop Plaza Design oleh Universitas Binus di TIM. Dari kiri: Afif Numbo, Chris Lie, gue dan Rudy Siswato (Crut). BTW GUE BAHKAN GA BISA MENGENALI DIRI GUE DONG…

 

Setelah itu gue langsung pulang, stalking Facebook Caravan dan entah gimana waktu itu gue nemu akun FB semua pemateri, lalu gue add akunnya sebagai teman. Foto di atas langsung gue upload dan gue tag ke akun mereka. Sepertinya sinar surga jatuh ke atas gue. Gue menerima chat dari salah seorang di foto di atas, “hi, kamu yang tadi di Plaza Design kan?” Chat itu gue sambut bahagia, dan berlanjut dengan gue minta dia menjadi mentor yang memberikan penilaian untuk karya gue yang butsu (suram). Orang itu adalah Rudy Siswanto (Crut) yang sekarang menjadi sahabat baik gue. Seringkali dia sibuk. Waktu itu kadang chat gue langsung dibalas, tapi kadang seminggu kemudian ataupun tidak terbalas (sibuk banget kan soalnya). Gue sangat menghargai waktunya dia, dan gue bersyukur bisa dapat akses ini.

Dari situ gue minta diajakin setiap kali Caravan ada seminar maupun workshop. Gue haus ilmu banget. Terkadang ternyata materi seminar sama dengan seminar mereka yang pernah gue ikuti, namun gapapa. Moment itu gue pake buat kenalan dengan pemateri yang lain dan invest waktu biar bisa lebih punya hubungan yang dalam dengan yang sebelumnya sudah gue kenal. Menurut gue mereka bisa jadi pendukung penting dalam perkembangan gue, bisa kasih feedback dari experience mereka yang menurut gue valuenya nggak murah.

Akhirnya waktu itu gue terobsesi untuk masuk menjadi team Caravan Studio, karena gue mau mendapatkan lingkungannya. Plan gue adalah, latihan –> magang –> diterima jadi team tetap. Gue apply magang melalui email dan gue mendapatkan balasan dalam waktu 4 jam. Gue ditolak. YAEYALAH, PORTFOLIO YANG GUE KIRIM SAAT ITU NGGAK SESUAI DENGAN KEBUTUHAN MEREKA KELEUS.

150-57ne4cb-sad-tiger.jpg
Portofolio karya gue untuk gue apply magang di Caravan Studio. Jelas banget nggak sesuai dengan kebutuhan mereka makanya gue bertepuk sebelah tangan wkwkkw
Screenshot (2).png
Portofolio Caravan Studio di website mereka. Imba.


Time flies. Gue kuliah di salah satu college di Jakarta, sambil terus berlatih menggambar digital dan menjaga hubungan baik dengan teman-teman di dunia ilustrasi. Singkat kata gue apply magang lagi ke Caravan dengan portofolio yang lebih sesuai, lalu gue diterima.

Maret-Juni 2013 gue magang di Caravan Studio dan itu menjadi moment yang sangat indah  buat gue. Gue bisa minta feedback untuk karya gue dari point of view sesama anak magang sampai senior artist di sana. Semua feedback sangat berharga buat gue. Dari sesama anak magangpun gue belajar, gak cuma dari para senior. Di sana gue merasa mendapatkan akses dari orang-orang yang biasa menjadi narasumber seminar/workshop di luar sana, di mana orang lain “membayar” untuk bisa mendapatkan feedback dari mereka.

310302_2042030930083_1455763869_n
26 September 2011, WELCOME BUTO, mengenai Timun Mas yang akan didatengi Buto Ijo. Ini merupakan karya gue sebelum gue magang di Caravan Studio. Iye gue tau ini gambar kualitasnya butsu! Wahahahha
10339743_10202436964825111_2245002818805489787_n.jpg
3 Juni 2014, SEXY CHIBI MARUKO-CHAN. Setelah sekian lama nggak menggambar karena fokus di bidang pekerjaan yang lain, gue bikin karya ini dengan dasar ilmu yang gue dapat ketika magang di Caravan Studio dulu. Dan gue lihat banyak banget jebolan magang di sana yang terus konsisten menggambar, yang progressnya jauhhhhhhhh di atas ini.

 

Kebetulan pada 28 November 2016 malam gue bertemu dengan ko Crut dan calon istrinya, Gilent Uma yang sedang berkunjung ke Jakarta. Setelah kita pergi nonton, malam itu kita mampir ke Caravan Studio yang semua penduduknya sudah pulang. Di situ gue nostalgia gila-gilaan. Kangen banget sama tempat ini. Karena malam itu gue menginap di unit lantai atas dari gedung yang sama, besok paginya sebelum pulang gue datang lagi untuk bertegur sama depan teman-teman di sana, termasuk ko Chris Lie, Director of Caravan Studio.  Kita jadi ngobrol panjang lebar.

29 November 2016, Chris Lie bertempat ruangannya di Kantor Re-On Comics, tetangganya kantor Caravan Studio.

 

Gue merasa para ilustrator dan penggiat komik yang berkantor di Caravan Studio sangat beruntung. Untuk mereka yang membutuhkan banyak referensi karya, di sini dimanjakan dengan source artbook yang berlimpah. Juga bertebaran para team dengan berbagai experience berkarya degan pengalaman project yang berbeda-beda yang bisa ditanyain feedbacknya. Bisa banget lebih proaktif dan membangun hubungan yang lebih hangat agar proses perukaran ilmu menjadi lebih enjoy.  Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan project dari klien lama yang menggunakan jasa Caravan Studio setelah melihat portfolio yang sudah dibangun selama ini.

Beberapa portofolio yang dikerjakan oleh Caravan Studio (doc: @Gilentsya)

Processed with VSCO with g3 preset
Lovely Caravan Studio (doc: @gilentsya)

Kyaaa ada Iron Man ^^ (doc: @gilentsya)

Bertebaran artbook! Luksuri abis dah. Oke gue ngaku gue lagi pura-pura di candid btw (doc: @gilentsya)

 

Di manapun kita berada, kita harus bisa grow terus. Gue percaya semua orang punya modal/ akses dari minimal sampai maksimal. Tapi siapa yang memaksimalkan itu? Lu bisa punya mobil yang paling mahal tapi percuma aja kalau lo nggak punya bensinnya lu nggak akan kemana-mana. Kalau sampe sekeliling kita udah berlimpah susu dan madu tetapi kita masih kelaparan, ada pertanyaan besar di sini. Kadang gue melihat, bukan masalah lu punya atau nggak. Tapi lu mau atau enggak. Lu melakukan atau nggak. Jangan cuma menyalahkan keadaan. Kalau kata Jack Ma, kalau lu dilahirkan miskin itu bukan salah lu, tapi kalau lu mati dalam keadaan miskin, itu salah lu.

 

Ya, gue harus belajar untuk lebih memaksimalkan apa yang gue punya di sekitar gue

26 respons untuk ‘Mahalnya Lingkungan dan Network

  1. permisi kak,saya salah satu mahasiswa dkv binus semester 8,saya ingin bertanya untuk magang di caravan studio,apa saja yah dari artwork kita yang menjadi penilaian / yg ditinjau dari mereka? terimakasih

    Suka

    1. Halo Cevin 🙂 wah baru aja kemaren gue makan di Asta Karya sebrang syahdan ekwkkw, trus papasan sama mas Hagung. Anyway kalo menurut gue pertimbangannya adalah apakah karya lo sesuai kebutuhan mereka. Soalnya namanya anak magang kan diharapkan buat membantu load kerjaan di sana juga dong. Lo lagi mau apply?

      Suka

      1. wah sorry baru baca kak.saya rnah apply sih dulu tpi gak keterima dan memang kl dilihat artwork mereka memang bener” sakti dan jauh banget sama punya saya hehe..tpi thanks buat infonya yah kak 🙂

        Suka

  2. Belajar banyak dari tulisan CC nih! Memang kadang madu disekitar kita kagak keliatan, jadi mau maksimal juga bingung kalo gak keliatan. Kebanyakan gak ngeliat madu di sekitarnya karena terlalu rempong liat madu orang. that’s why kenapa urip itu sawang sinawang. mulai sekarang kudu lebih maksimal In madu2 yg berlimpah disekitar nih 🙂 Thanks cc jo!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s