Journey Thinking

Bercocok Tanam di Rumah dan Menanti Panen

Gue ingat waktu kecil gue suka bercocok tanam. Dulu gue tinggal di ruko yang memiliki 5 lantai, di mana lantai 5 full dijadikan taman sama bokap gue.

2xhmwr

Dari 4 bersaudara yang tinggal di ruko itu, entah kenapa gue doang yang suka menanam. Gue sering mau menyendiri dan merawat tanaman gue. Gue ingat gue pernah bikin 1 rooftop gue penuh dengan bunga matahari setinggi 1,5 meter di mana mereka gue tanem dari masih biji. Bahkan pernah rumah gue penuh dengan stok buah srikaya yang gue tanam dari biji juga, dan gue rawat sampai panen. Bertahun-tahun, tapi seru. Sayang waktu nggak gue foto.

Gue stop menanam ketika gue pindah rumah karena nggak ada tanah dari bokap gue, dan ketika gue mulai kuliah sambil kerja serabutan, lebih lagi jarang di rumah. Sekarang gue tinggal di apartemen, dan beberapa kali gue coba menanam di teras, tanamannya mati karena kena panas hawa outdoor AC. Shedi akutu.

Lalu satu hari gue nonton video “Rara Sekar dan Ben Laksana: Kembali ke Tanah” dari channel Youtube Asumsi. Pada 6 menit pertama dari video itu, Rara dan Ben bercerita tentang kenapa mereka bercocok tanam, dan gue jadi semangat lagi untuk menanam.

Kenapa gue mau menanam? Gue pengen nggak harus beli mahal-mahal di supermarket kalau gue mau makan sayur atau buah. Gue pengen bisa makan dari apa yang gue tanam sendiri. Bahkan kalau panen dapet banyak, pengen gue bagiin ke orang-orang terdekat biar pada ngerasain juga hasil tanam sendiri tuh kayak gimana. Dan gue pengen kita bisa punya udara yang lebih sehat. Makanya yuk kita ramai-ramai menanam.


 

Dokumentasi 1 April 2019.

Processed with VSCO with a6 preset
Setelah sebelumnya akhirnya gue dibantu partner gue buat pasang imfraboard putih sebagai sekat agar hawa panas dari outdoor AC nggak bikin keder taneman yang akan ditaruh di sebelah kiri, gue coba menanam. Dan, ternyata sekat itu berfungsi! Tanaman gue mulai tumbuh dong
Processed with VSCO with a6 preset
Di situ gue tanem pokcoy. Ada satu yang agak gede itu kalau nggak salah jeruk deh. Nggak tau gue juga, dulu biji apa aja gue masukin di sana hahaha.

Processed with VSCO with a6 preset
Gue juga merawat common mint. Biar kalau mau daun mint, tinggal petik aja. Sebel di supermarket mahal banget. Belom lagi kalau beli nggak bakalan habis seiket dan sisanya keburu busuk di kulkas T…T
Processed with VSCO with a6 preset
Di meja kerja gue, commont mint tadi juga gue jadikan stek di botol bekas air mineral
img_1712
Si stek ganteng tumbuh akarnya
Processed with VSCO with a6 preset
Gue juga coba menanam bonggolnya daun bawang. Moga-moga gue diselamatkan dari budget buat beli daun bawang.
Processed with VSCO with a6 preset
Gue ngumpulin sampah organik yang mau gue godok sama tanah bekas abis panen nanti. Buat bikin tanah baru.
Processed with VSCO with a6 preset
Sebenarnya nggak cuma nanem, Tapi gue bikin pewangi ruangan alami dari daun pandan. Karena apartemen gue nggak gede, jadi gue pake pewangi ini di 3 titik aja.
Processed with VSCO with a6 preset
Daun pandan yang sudah kering, akan gue potong-potong buat dikumpulin sama stok sampah organik tadi.

 

3803646_70432aee-dfaa-45c0-bfc2-09433a2c93a4_730_1058
In fact gue lagi nunggu hasil PO rak tanaman yang gue beli dari Tokopedia. Rencananya gue mau layout ulang jejeran taneman di balkon pake ini biar bisa taruh lebih banyak lagi. Maaf ya pak penjual gue terus merongrong biar ini rak cepet nyampe, nggak sabar akutu T..T (Source image)

 

Bener-bener nggak sabar pengen memperbanyak tanaman. Pengen cepet si pokcoy cepat bisa dipanen. Setiap hari melihat progress tumbuh mereka bikin gue merasa lebih bahagia.

Nanti perkembangan tanaman-tanaman ganteng dan cantik gue akan gue share lagi 🙂

8 comments on “Bercocok Tanam di Rumah dan Menanti Panen

  1. Herman Tan

    blognya punya slot iklan engga?

    Suka

  2. Anthony Tanzil

    tanamannya ucul2… hahaha. aku kasih liat mamaku yg suka tanem2 juga di kebun depan rumah dan menginspirasi banget.. malah dapet titipan pertanyaan nih dari mama. tanem daun mint bibitnya dari mana? 😀

    Disukai oleh 1 orang

  3. Terima kasih utk ceritanya, mengingat kanku pada pengalaman yg sama. Aku suka mengambil biji”an yg memang akan dibuang, seperti biji cabe, biji semangka, biji rambutan. Di samping rumah, kebetulan ada sedikit lahan dan biji”an tsb sengaja aku tabur asal. Setiap sore, aku sempatkan utk menjenguk mereka, melihat pertumbuhan dan menyirami mereka. Senang melihat mereka setelah segar bermandikan air. Lebih senang lagi ketika banyak pohon cabe yg tumbuh dan mulai tumbuh tunas hingga berbuah banyak. Ketika cabe mulai mahal, cabe” itu dipetik utk dimasak oleh ibu dan nenekku. Rasanya ada kebanggaan tersendiri. Dari hal kecil yg aku lakukan, membuat orang tuaku pun mulai suka menanam namun sayang, keterbatasan waktu karena banyaknya kegiatan sekolah, aku tak lagi sempat mengurus mereka. Setelah pindah di Jakarta, mulailah mencari dan memilih tempat utk tinggal sementara (kontrakan-red). Sengaja mencari yg ada sedikit lahan utk menanam. Ternyata di Jakarta, ada event flora dan fauna yg memudahkan bagi aku sbg pendatang di Jakarta utk mencari berbagai macam tanaman. Akhirnya aku membeli pandan, mawar, melati, lavender. Pandan yg bertahan lama, melati terus berjuang dan karena lama tak tersentuh karena aku sudah mulai sibuk dg bayi mungilku, tumbuh melayu dan kering sang melati dan mawarku, jg pandan ku. Yg masih bertahan hingga sekarang adalah stek pohon pepaya sayur, yg sempat aku panen utk dimakan. Masih hangat dalam batin, aku ingin menanam lagi mungkin menunggu beberapa bulan lagi, ketika anak bayi sudah cakap duduk bahkan berjalan. Dalam impian, ingin kukatakan pada gadis bayiku, mari kita bermain tanah di Jakarta ini seperti mama bermain tanah sewaktu kecil di desa sana.

    Disukai oleh 1 orang

  4. Kalau masalah bercocok tanam dalam keluarga gw yang bakat kakak gw yang ketiga deh, lebih telaten ga kayak gw. Pernah gw dikasi pohon kecil yang dihias kece seperti island kecil di tenaga laut… Alhasil karena cuma di siram air dalam ruang AC… Mati dia… Hahahaha… Bersalah banget sampe sekarang…
    Beda cerita dengan nyokap gw juga… Yang super rajin, sampe tanah kosong sebelah rumah dijadiin kebon kecil sayur kangkung, dan hasilnya langsung bagi-bagi ke tetangga. Dirumahpun nyokap seneng banget tuh tanam apapun yang dari biji, sampai bikin hydroponic yang dari pralon untuk tanam sayuran…
    Yang paling sering ditanam cabe seh, karena sering dipake dan yang ditanam beneran pedesaan gitu. Menanam memang kegiatan yang kudu rajin dan telaten. Butuh cinta yang lebih untuk dialihkan ke mereka. Tumbuh berkembangnya karena ada cinta dan komunikasi. Aneh mungkin, tapi tanaman ini suka diajak ngobrol juga, memanusiakan tanaman.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke johanakusnadi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: