Memilih Circle Terdekat

Tidak membanggakan memang, gue memiliki beberapa julukan dari teman-teman di sekitar gue. Salah satunya adalah “Jojo – si semua itu teman” karena memang gue sering mengatakan, “semua itu teman.” Dari julukan ini sih, yang paling sedih adalah ketika muncul asumsi masyarakat kalo gue ini tukang friendzone. Tapi yaudahlah ya.

Ya, gue suka berteman. Gue selalu berusaha membalas semua notifikasi pada akun social media gue, email, maupun pesan dari aplikasi chatting yang gue dapat. Dalam hubungan kerjasama dengan partner maupun klienpun, gue senang sekali apabila bisa memiliki hubungan personal yang lebih dalam, yang lebih emosional. Apalagi ketika gue bisa tau kesulitan maupun pandangan terhadap beberapa hal dari point of view mereka. Berapapun umurnya, apapun backgroundnya.

unnamed
Kalaupun kayak gini, tetap gue usahain bales semua kok ._. (Tenang, itu jumlah notifikasi WhatsApp sejatinya gue photoshop biar lebai)
Lanjutkan membaca “Memilih Circle Terdekat”

Memilih Circle Terdekat

Mahalnya Lingkungan dan Network

Ketika mendalami 1 bidang ilmu, source bisa kita dapat dari mana saja. Apalagi mengingat ini zaman internet di mana ada agama baru yang namanya Google. Ketika apa yang kita cari tidak dapat kita temukan di sekeliling kita, itu adalah hambatan. Hambatan yang bisa kita cari jalan keluarnya. Contoh kecilnya adalah, ketika kita tidak bisa mendapatkan buku yang bagus dalam satu bidang ilmu yang kita mau gunakan untuk belajar dari satu toko, ya cari dong di toko lain, atau search source lain di internet yang menyediakan buku itu. Mentor berperan sangat penting, mereka bisa memberikan arahan maupun feedback yang harganya mahal. Lo mau punya mentor yang bagus tapi di sekitar lo nggak ada mentor yang memenuhi standart itu? Ya bisa dimulai dengan connect/follow mentor keren di social media mereka. CARI!

Kalau lo merasa nggak mendapatkan opportunity, bikin sendiri opportunitynya! Lanjutkan membaca “Mahalnya Lingkungan dan Network”

Mahalnya Lingkungan dan Network

Terlalu Banyak Cinta

 

Ya, beberapa waktu yang lalu gue telah mengumumkan kepada team Kreavi.com kalau gue mengundurkan diri dari startup lokal ini. Tentu berat buat gue. Dulu gue selalu berpikir kalau gue nggak mau punya anak. Tetapi setelah mengasuh dan membesarkan “anak” yang satu ini, rasanya punya anak itu tidak terlalu buruk.

1
Doc: Kreavi

Singkat kata gue mengajak team Kreavi yang berada di Jakarta (maaf untuk yang ngantor di Surabaya) untuk tukeran kado bareng di apartemen gue. Like Christmas come early for us.

Akhirnya kita saling bertukar kado di kolam renang apartemen, malam-malam. Saking serunya gue harus beberapa kali mengingatkan agar kita tidak terlalu ribut, karena bisa mengganggu penghuni yang lain. Tapi emang parah si anak-anak, ada aja yang ngasih kado yang ngaco. Seperti Acu, senior desainer grafis, yang mendapatkan Axe deodorant spray, ya, produk untuk lelaki, dari Dadang. Udah bagus tuh anak gak disantet gara-gara khesal ahahahaaa.

Salah satu yang bikin senang adalah, semua hadir. It means a lot. Lanjutkan membaca “Terlalu Banyak Cinta”

Terlalu Banyak Cinta